Surat Seorang Calon Dokter

2:36 pm

Yang Tersayang, calon pasienku dimanapun kamu berada

Pagi ini aku mendengar bahwa kamu sakit. Benarkah itu? Sakit apa? Sudah berapa lama? Bagaimana rasanya? Aku benar-benar ingin tahu.
Aku selalu penasaran dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kamu. Setiap hari, calon pasienku. Dan pagi ini rasanya aku seperti terserang dypsnea dan pleuritis. Nyeri sekali, dibagian intercosta 4-5 sinister dexter. Aku tidak pernah tahu. Aku tidak pernah mengerti. Mengapa kamu calon pasienku, mudah sekali menciptakan dypsnea untukku. Terlebih-lebih, tadi pagi. Kamu sakit, dan aku tak tahu harus berbuat apa. Dypsnea akut.

Calon pasienku. Mari kita berkhayal sejenak. Anggap saja aku ini dokter kamu, dan kamu pasien ku. Kamu sakit, aku akan berusaha mengobati. Aku anamnesa kamu, kamu berikan infomasi yang sejujur-jujurnya. Kemudian kita saling berkerja sama, simbiosis mutualisme. Simple.
Tapi itu hanya khayalan, takkan pernah menjadi sesimple seperti yang aku bayangkan. Mungkin akan menjadi lebih nyata nanti, 5 tahun lagi. Setelah aku sudah menjadi dokter yang sesungguhnya. Mungkin.
Kenyataannya. Aku, calon dokter. Kamu, calon pasien. Masih ada kata calon disana. Calon. 5 huruf yang menurut aku membuat kita sangat jauh, calon pasienku.

Calon pasienku. kalau telinga kamu sedang berbunyi, barangkali aku sedang membayangkan kamu disini. Membayangkan kamu memang favoritku. Terlebih hari ini. Aku tak tahu harus membayangkan wajah kamu seperti apa sekarang. Wajah yang sedang sakit pucatkah atau wajah kamu yang sedang tersenyum nyaman. Aku benar-benar tidak tahu. Calon pasienku, berikan aku sedikit berita. Kali saja, patofisiologi dan kapita selekta yang bertengger rapi di meja belajarku berguna untuk pertama kalinya. 

Calon pasienku. Sering kali aku berkhayal, aku yang akan menghitung tekanan darah kamu. Diastole maupun systole. Meletakkan membran stetoskop di arteri brachialis kamu, mengeratkan kain spyghmometer, menekan bola karet, dan membuka knopnya pelan-pelan. Momen terindah menurutku. Atau, aku yang akan mendiagnosa fisik kamu. Inpeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Aku ingin sekali mendengar detak jantung kamu, kali saja ada namaku disana. Mungkin.Calon pasienku. Mungkin, tak banyak yang telah aku tangkap di fakultas tempatku bersekolah sekarang. Hanya beberapa saja. Tapi, aku sungguh ingin melakukan itu semua dengan kamu.

"Dokter harus mempunyai empati yang mendalam", kata dosen difakultasku. Dan aku rasa dia benar. 
Ketika mendengar kamu sakit, aku merasa sakit juga. Dypsnea. Gak salah kan kalo aku ikut merasakan kesakitan calon pasienku? Tenang saja, ini hanya kekhawatiran calon dokter terhadap calon pasiennya. Mungkin. Aku tak yakin.
aku tak bisa berbuat apa-apa, calon pasienku. Seandainya aku lebih sedikit berani, bisa saja ku ucapkan cepat sembuh kepada kamu. Tapi, aku benar-benar takut. Pengecut. Hanya bisa mendoakan kamu, dari jauh. Semoga dokter disana bisa merawat kamu dengan baik, anggap saja dia wakil ku. Cepat sembuh, kamu, calon pasienku.

You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe