Cukup Tetap Disana, Jangan Pernah Kembali

11:32 pm

Jika jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tolong ingatkan aku untuk segera tidur.

Karna, semakin lama aku terjaga, semakin beribu fragmen mu diingatan ku. Semakin pula aku merindumu, dan seringkali nyaris untuk menanyakan kabarmu. Saat itu juga. 
Beruntung, akal sehatku dapat mengalahkan rasa rindu. Menciptakan keadaan berpura-pura, merasa tidak merindukan mu, padahal sangat ingin mendengar suaramu. Ntah kamu akan merinduku balik atau hanya diam tak merespon, aku benar-benar tak peduli. Beruntung, akal sehatku dapat mengalahkan rasa rindu. 

Setiap kali aku merindu mu, aku selalu mencari Tuhan. Kau tahu kenapa? Tentu saja untuk menceritakan mu. Siapa lagi yang dapat mendengarku tengah malam begini selain Dia? Kau? Ah melihat wajahku saja kau tak mau, bagaimana pula bisa mendengar ceritaku. 
Padahal, sebenarnya, aku ingin sekali bercerita lagi dengan mu. Bercerita selayaknya anak kecil yang tak punya masalah. Seperti dulu. Ya mungkin sekarang kita bukan anak kecil lagi, aku berada didunia ku dan kau berada didunia mu selayaknya orang dewasa diluar sana. Berbeda rasanya, harus melepas sisi kekanak-kanakkan ku disaat aku masih ingin berfantasi. Harus merelakan seseorang disaat aku masih ingin menggenggam tangannya. 

Mengertikah? Kau takkan pernah mengerti, sampai kau sendiri yang mengalaminya.

Sekarang, apa yang dapat ku lakukan? Mendoakanmu, ya aku tau itu cara yang paling baik. Tak pernah aku berhenti mendoakanmu, agar kau selalu baik-baik saja disana. Dan apa yang dapat kau lakukan untukku? Cukup tetap disana, jangan pernah kembali. 

You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe