Enambelas Juli

12:46 pm

Hem jadi? Bagaimana keadaan mu selama setahun belakangan ini? 

Semakin gendutkah atau semakin kurus? Tidak melihatmu lagi selama setahun ini benar-benar membuat ku nyaris lupa ingatan. Beruntung aku memiliki kapasitas memori yang cukup tajam untuk mengingat detail semua hal tentang mu. Bahkan sekecil apapun itu. 
Seharusnya malam ini aku membaca slide kuliah. Beberapa sudah ku baca tadi, slide ilmu kesehatan gigi; dua buah, slide ilmu penyakit dalam; setengah, dan slide ilmu penyakit anak; baru judulnya saja. Namun tiba-tiba aku mengingat mu dan kepikiran buat menulis, ya apalagi kalau bukan menulis tentang mu. 
Aku masih ingat bahkan sangat ingat apa yang terjadi saat itu. Enambelas Juli DuaRibuSebelas
Aku lupa persisnya jam berapa, tapi aku sangat ingat bagaimana tatapan mata dan ekspresi tanpa senyummu saat itu. Mata dan bibirmu seolah-olah diciptakan untuk tidak melengkung sedikitpun hari itu. 
Kau tahu? Bahkan dalam keadaan secuek itu pun aku masih sangat ingin memelukmu saat itu juga. Memelukmu dan mengatakan agar kau tetap disini, bersamaku. 
Kau tahu? Betapa sangat repotnya aku saat kau bilang ingin kerumah. Sejak pagi aku sudah mengkeramas rambut, menggunakan masker wajah dan mandi dua kali. Akal sehat ku hilang. Hem nyaris hilang, lebih tepatnya. 
Kau tahu? Begitu gugupnya aku saat itu. Sampai-sampai aku menelepon dan meng-sms semua sahabatku. Bukan, bukan untuk memamerkan perihal kedatangan mu. Aku hanya ingin meminta pendapat mereka, tentang apa yang harus kulakukan, tentang apa yang harus kukatakan.
Kau tahu? Banyak hal yang sudah kupikirkan, jauh sebelum kau datang. Aku pernah berpikir, saat kita bertemu entah dimana itu, aku ingin menyapa mu dan mengatakan bahwa aku begitu sangat merindukan tawa mu. Tapi, aku terlalu takut untuk mempraktekkannya ditanggal enambelasjuli. Aku takut kau akan menolak semua pengakuan rinduku. Aku tak berani menerima kenyataan buruk yang memang akan terjadi. 
Dan apakah kau tahu? Saat kau hendak beranjak pergi, aku segera berbalik menutup pagar dan secepatnya masuk kedalam rumah. Menutup pintu, tanpa melihat lagi kebelakang. Air mataku benar-benar jatuh saat itu. Aku tak ingin kau melihatku sejelek itu. Sungguh tak ingin. Walaupun sebenarnya aku tahu, kau takkan peduli lagi dengan bagaimanapun ekspresi dan perasaan ku. Apakah kau tahu? Aku sungguh tidak merelakan kepergianmu sepenuhnya. Aku berharap kau mau duduk lagi diruang tamuku, berbicara lagi dengan ku, dan melakukan banyak hal lagi. Apakah kau tahu?
Semenjak saat itu entah kenapa aku merasa tidak akan melihatmu lagi. Merasa tidak akan mendengar tawa renyah mu lagi. Aku merasa telah kehilangan sebagian dari diriku. Dan sialnya, dugaan ku itu tepat sasaran.
Begitu banyak hal yang telah terjadi setahun belakangan ini. Kau pasti tidak tahu sudah berapa banyak bait doa yang aku nyanyikan untuk kebahagianmu. Kau pasti tidak tahu sudah berapa banyak cara yang aku lakukan untuk melupakan mu. Ya, kau tidak tahu itu. Tidak akan pernah tahu.
Sekarang di Enambelas Juli DuaRibuDuaBelas aku percaya dan selalu percaya bahwa aku akan tetap baik-baik saja. Walaupun itu dengan ataupun tanpamu. Sudah setahun berlalu dan lihatlah aku tetap baik-baik saja disini kan?
Seharusnya tidak akan menjadi masalah kalau memang aku ditakdirkan tidak bertemu lagi dengan mu selama-lamanya. Terimakasih pengantar PJP. Terimakasih buat PJP tigapuluhenamribunya. Jika nanti aku sudah bahagia dengan suami dan anak-anakku (tentunya pada waktu yang tepat), aku akan menceritakan pada mereka tentang senyum dan tawa renyahmu. Biar mereka tahu bahwa Tuhan benar-benar agung, menciptakan mahluk seindah kamu.

sumber : koleksi pribadi 


16 Juli 2012
anissa Florence dengan ingatan yang tak pernah luntur,
komputer 3 warnet dekat rumah 

You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe