Ketakutan Saya

2:34 pm

Kalian tau rasanya nangis diatas motor?
Disisi lain otak bekerja untuk fokus ngeliat jalan, disisi yang satu lagi mata terus-menerus mengeluarkan air. Ribet, sudah pasti.

Seperti hari ini, saya merasa sangat takut. Takut kehilangan. Perasaan itu muncul dipagi hari, ketika saya baru saja menginjakkan kaki di kampus. Ika, teman sekelas saya mengatakan bahwa salah satu orang tua senior kami baru saja meninggal, pendarahan diotak.
Saya kaget, padahal baru saja kemaren saya melihat senior itu tertawa-tawa dikantin kampus. Dypsnea. Ketika mendengar hal-hal seperti itu yang ada di pikiran saya hanya ‘Orangtua’. Saya ingat mereka, mencoba membayangkan mereka sedang apa disana. Lalu mengucapkan doa berkali-kali agar mereka baik-baik saja. Saya juga memikirkan adik-adik saya, dua orang di Pekanbaru dan satu orang lagi di Bandung. Lalu kembali lagi berdoa, mereka pasti tidak kekurangan satu apapun disana. Dan yang terakhir saya memikirkan mu, bang. Disela-sela kekhawatiran saya yang seperti ini pun, saya masih bisa memikirkanmu. Menerka sedang mata kuliah apa yang kamu masuki sekarang. Mendoa agar kamu selalu dijaga sama Tuhan.
Saya takut, kalau-kalau suatu saat saya kehilangan mereka. Kehilangan orang-orang yang begitu saya sayangi. Saya masih membutuhkan kalian, tidak mau kehilangan. Dan terkhusus buat kamu bang, saya tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya.

Kekhawatiran, kegelisahan, dan rasa takut bercampur menjadi satu. Ujung-ujungnya saya nangis diatas motor. Beruntung saat itu saya memakai masker, sehingga orang-orang  dijalan tidak dapat mendapati air mata saya yang sudah mengalir cukup deras.  Tapi sialnya, helm saya yang sengaja dibuat berkaca bening ternyata enggak selamanya menguntungkan. Disaat-saat seperti ini contohnya. Saya cuek saja. Lalu nangis sampai puas, tentu saja masih diatas motor.

Sebenarnya sudah berkali-kali saya nangis diatas motor. Bagi saya, motor adalah tempat nangis paling aman, kemudian yang kedua adalah membenamkan kepala dibantal kamar. Di motor, nangis gak perlu takut didengar orang. Suara bising kendaraan mampu menelan semua teriakan tertahan mu.
Di motor, nangis gak perlu sesak napas seperti membenamkan kepala ke bantal. Air matamu juga cepat mengering akibat angin jalan. Banyak sekali keuntungannya.
Saya ingat, pernah suatu kali saya nangis diatas motor, tangisan pertama saya. Saat itu saya masih di kota Pekanbaru. Perjalanan dari Ahmad Yani sampai kerumah saya isi dengan nangis. Saya teriak sekencang-kencangnya dijalanan tanpa perlu khawatir ada yang liat. Diatas motor saya juga sering mendapatkan ide-ide menulis. Kalau saja bisa mengendarai motor sambil megang laptop, mungkin sudah banyak tulisan yang saya buat.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi

Tapi seberapa banyak pun keuntungan nangis diatas motor tetap saja lebih nyaman nangis sambil meluk orang lain. Karna nangis itu ngabisin tenaga. Butuh ada yang nyangga  saat saya sudah kehabisan tenaga karna nangis. Mungkin beberapa tahun kedepan, nangis dapat dimasukkan dalam program diet.

Mudah-mudahan setelah ini saya tidak mudah nangis lagi ya. Tidak mudah khawatir, dan selalu percaya bahwa Tuhan selalu jaga orang-orang yang saya sayangi. Nangis itu salah satu proses penyelesaian masalah, hem maybe..

Puji Tuhan,
nulis tulisan ini gak sambil nangis :)

You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe