Sebut Saja Ini Sebuah Pengakuan

11:52 am

Eh, bang. 

Kamu tahu kan kalau ‘jarak’ itu bisa menimbulkan rasa kangen yang luar biasa. Aku pikir, mungkin aku sedang berada pada tahap itu. Setiap aku kangen, aku menutup mataku, membayangkan kalau-kalau kau berada disini. Tapi rasa-rasanya, hal seperti itu tetap saja tidak cukup. Yang dibutuhkan seseorang untuk menghapus rasa kangen itu cuma satu, ketemu. Tapi sayang ya bang, untuk bertemu dengan mu bukanlah hal yang mudah. Bahkan dalam jarak sedekat ini pun, aku masih saja tidak bisa menemukanmu. Dan ujung-ujungnya apa? Kangen itu belum terobati, bang. 
Aku jadi ingat. Selama ini kita dipisahkan oleh 1.529 km, selama itu juga aku kangen. Sering sekali aku melihat seseorang sepertimu dijalanan. Entah itu sedang mengendarai motor, atau hanya sekedar lewat memamerkan aroma parfumnya. Aroma parfumnya seperti punya mu, lembut dan menenangkan. Aku suka. Namun aku kembali sadar, kita dipisahkan ribuan kilometer. Sesuatu yang mustahil jika tiba-tiba aku mendapatimu dikotaku. Kangen itu nyata, bang.

Bang, aku ingin bertanya sesuatu. Boleh kah?

Aku hanya ingin mendengar alasan mu mengapa selalu singgah di mimpiku belakangan ini. Setiap hari, kau masuk ke alam bawah sadar ku, tersenyum lalu pergi. Tidakkah kau tau bang, ini sungguh sakit. Sakitnya seperti di kuliti tanpa melakukan anastesi terlebih dahulu. Abang bisa bayangin sendiri kan rasanya gimana?

Bang, mungkin ini untuk kesekian kalinya aku mengatakan rindu. Ntah abang mengerti, tidak mengerti, atau memang pura-pura tidak mengerti. Yang pasti bang, aku membutuhkan sebuah pertemuan bang. Tentu saja pertemuan antara kita berdua. Bisakah kau menciptakan sebuah kebetulan lagi? Seperti beberapa bulan yang lalu. Aku lelah bang, sakit. Aku tidak ahli dalam membuat sebuah kebetulan, aku tidak tahu caranya bagaimana. Kau ahlinya bang, membuat sebuah kebetulan lalu pura-pura berkelakuan bahwa pertemuan itu bukanlah hal yang disengaja.

Bang, abang ngerti maksud aku kan? Kalau abang mengerti, anggukkan kepalamu. Jika tidak mengerti, cukup tersenyum saja. Nanti biar aku yang menjelaskannya padamu. 

Anissa Florence Oktina Pardede
sore hari, kamar kosan alda, Kota Parahyangan

You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe