"Don't Be Afraid, Nisa." - God

1:15 pm

Sepulang dari gereja tadi, saya tidak bisa memungkiri lagi kalau saya memang sangat takut.Ketakutan yang tidak biasa-biasanya. Ketakutan yang paling menakutkan setelah ketakutan akan kehilangan dan dilupakan. Ketakutan akan rutinitas ujian selama sebulan kedepan. Padahal dulu saat jaman-jamannya SNMPTN yang kata orang adalah ujian paling menakutkan seumur hidup, saya tidak setakut ini. Saya begitu tenang menghadapinya, bahkan seolah tidak punya beban. Namun yang ini berbeda, entah kenapa saya begitu takut untuk menghadapi ujian kali ini. Dan yang lebih mengerikan lagi, beberapa hari yang lalu saya terkena sleep paralysis terparah dari sebelum-sebelumnya. Mungkin karna over afraid kali, makanya sampai kebawa-bawa dalam mimpi. Huppt.

Tadi pagi, saya sempat malas ke gereja. Bahkan berpikiran seperti ini, "ah tidak apa-apa, tidak gereja kali ini. Tuhan pasti ngerti kok, kan Senin besok ujian sih"; iblis menguasai. Sekitar jam delapan pagi, saya melek, bangun dari tidur, golek-golek di kasur dan memang tidak punya niat sedikit pun untuk ke gereja. Dan seperti biasa, saya langsung ngecek handphone. Bukan untuk memeriksa sms siapa yang masuk pagi ini, hanya sekedar melihat-lihat status para penghuni blackberry di Minggu pagi. Di recent updates terlihat beberapa user contact mengumpat karna tim bola kesayangannya kalah tadi malam, beberapa lagi menulis ucapan selamat pagi untuk pacarnya, dan selebihnya di tempati oleh para pengucap 'Happy Sunday All'. Saya terus menggeser keypad, ngescrolldown recent update, membacai status mereka satu-persatu. Saya belum benar-benar sadar saat membaca status seorang teman yang isinya seperti ini, "Selagi kamu punya kesempatan, selagi Tuhan masih ingin memanggilmu, datanglah ke gereja. Biarkan Dia memeluk mu, menggapai tangan mu" DEG! Seketika mata saya cemerlang, seakan baru menerima injeksi hormon adrenalin. Lalu spontan memarahi diri sendiri, yang mau-maunya saja di bodohi oleh iblis. Tanpa babibu lagi, saya langsung aja ngacir ke kamar mandi, cepet-cepet pakai baju yang pertama di liat. Ga peduli bakalan matching atau enggaknya, yang penting ke gereja. Tidak hanya sampai disitu, kedatangan saya kegereja pagi ini sudah sangat telat. Bayangkan saja, baru duduk di bangku gereja saat para jemaat lain sedang mengucapkan pengakuan iman rasuli. Nisa, kau sungguh keterlaluan! But, lebih baik terlambat kan daripada tidak sama sekali. Tapi diatas itu semua tetap saja lebih baik tidak terlambat hadeuuh.

Jadi, yang bikin saya terenyuh pagi ini adalah khotbah pendeta, tentang ketakutan Yeremia saat dia di utus Allah sebagai nabi ketengah-tengah bangsa Israel. Bener-bener cocok sekali dengan suasana hati. Perbedaannya, Yeremia takut akan sebuah tugas dari Allah sedangkan saya takut akan sebuah ujian dari kampus. Nabi Yeremia tidak percaya diri dengan kemampuannya, sama seperti saya. Tidak jauh beda.
Saya yang biasanya seneng mainin handphone saat khotbah, mendadak konsentrasi penuh dengan ucapan Pak Pendeta. Kata-kata beliau sampai tepat sasaran di cordis, cerebellum dan cerebrum saya.
"Kenapa harus takut? Apa yang harus kau takutkan jika ada Yesus di samping mu?", kata Pak Pendeta. Saya mengangguk-angguk kecil, menyetujui pernyataan itu sepenuhnya. Lalu sadar, tidak sepatutnya saya takut berlebihan seperti ini.
"Yang penting itu adalah, kamu sudah melakukannya dengan baik. Kerjakan apa yang sudah menjadi tugas mu, dan biarkan Dia mengerjakan sisanya", lanjut Pak Pendeta lagi. Bener! Kenapa harus takut Nisa?
"Ketakutan itu manusiawi. Bahkan Tuhan Yesus yang menjadi anak Allah Bapa aja pernah takut. Ketika takut, Dia berdoa seperti kepada Bapa 'Bukan kehendak ku Bapa, kehendak mu jadilah' itu doa-Nya saat di Bukit Getsemani." Yap, aku manusia. Jadi wajar kalau takut, tapi gak boleh berlebihan kayak gini juga Nisa. Hedeuh.
Betapa saya sangat beruntung hari ini, karna bisa mengalahkan iblis. Kalau saja saya tidak ke gereja pagi ini, mungkin sekarang saya sedang meringkuk dalam selimut di kasur, merenungi ketakutan-ketakutan yang sebenarnya bisa diselesaikan oleh Tuhan Yesus. Terimakasih Tuhan :"))
Jadi, tadi seusai kebaktian, saya mendoakan satu hal yang jarang saya doakan. Meminta semangat, hanya itu saja. Karna ketakutan yang berlebihan, pasti selalu diawali oleh krisis semangat yang berlebihan juga. Hehe.

Akhir tulisan saya mau menuliskan satu ayat yang tepat buat direnungi disaat seperti ini. Ayat yang diambil dari surat alkitab kesukaan saya, Amsal. <3>
"Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencana mu" 
Amsal 16 : 3

Happy Sunday, jangan takut dan patah semangat lagi ya. :)

You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe