Lalu, bagaimana?

6:12 pm

Saya tahu, waktu akan terasa lebih cepat berjalan saat berada di depan laptop. Membuka satu persatu situs, membacainya. Tidak pernah terasa membosankan. Kalau sekiranya bosan, saya akan mulai mengetikan kata demi kata di word yang sering kali tercipta spontan begitu saja, seperti air mengalir. Jika hal itu masih juga tidak berhasil mengusir kebosanan, saya akan mulai memutar lagu di itunes atau sekedar berjalan-jalan di youtube.
Internet, laptop, dan musik memang sanggup membuat seseorang lupa. Salah satunya lupa makan, hingga akhirnya tersadar kalau belum ada nasi yang masuk kedalam perutnya sejak kemarin sore. Namun terlalu lama duduk di depan laptop akan membuat mata mu perih, pantat mu juga akan terasa pegal akibat terlalu banyak duduk. Jika kamu punya usaha yang besar untuk mengusir kebosanan saat bermain internet, bagaimana dengan hal ini? Apa yang kamu lakukan jika mata mu sudah berair dan memerah? Jawabannya cuma satu, matikan laptop.
Sebagian orang punya alasan tersendiri kenapa lebih senang menghabiskan waktunya di depan laptop. Beberapa diantaranya karna memang tidak memiliki pekerjaan lain, beberapa diantaranya lagi mungkin karna sudah kecanduan internet. Saya tidak berada pada kedua alasan itu.

Waktu memang akan terasa berjalan begitu cepat saat di depan laptop. Dikira masih jam 4 sore, eh ternyata udah jam 6 sore. Dikira masih pagi, eh ternyata sudah malam.
Namun menurut saya, internet bukanlah satu-satunya hal yang dapat membuat waktu berjalan sangat cepat. Masih ada satu lagi, lebih cepat dari kecepatan modem esia saya. Kamu. Kecepatan yang tidak akan membosankan atau membuat mata perih memerah. Tidak akan membuat saya lelah duduk berlama-lama hanya untuk mengobrol dengan mu.

Ya kamu, siapa lagi. Waktu akan terasa begitu cepat saat melihat senyum mu, mendengar tawa mu, dan menatap mata mu. Saya candu. Seperti orang-orang yang kecanduan internet. Saya candu mu. Sangkin cepatnya, saya tidak bisa mengikuti mu hingga akhirnya kamu jauh dari kedudukan saya. Sekarang, saya tidak tahu harus terus mengikuti kecepatan mu atau tetap berada disini. Karna mengikuti kecepatan mu benar-benar melelahkan. Lelah. Sangat.

Bagaimana kalau kita buat kesepakatan saja. Agar saya tetap bisa mengimbangi kecepatan mu, maukah kamu kembali kebelakang, menjemput saya? Setelah itu kamu harus janji, tidak akan berjalan terlalu cepat lagi.

Bagaimana?

You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe