Us.

6:14 pm

Lagi pelanga-pelongo natapin slide kuliah blok gastroenterohepatologi, mata udah ngantuk banget tapi bahan kuliah masih banyak sekali yang belum dibaca. Mumet? Banget. Guling-guling di kasur sebentar, sebelum melanjutkan aktivitas membaca yang paling membosankan. Eh tiba-tiba BB bunyi, tumben-tumbenan loh. Padahal biasanya ini BB kayak engga punya fungsi sekunder disamping fungsi primernya yaitu 'jarkom'. Seperti pepatah anak gahoel jaman sekarang, istilah itu juga berlaku di kampus aku ; “Engga pakai BB? Silakan nyebur kelaut aja deh lu.” Sebenarnya alasannya simpel aja, jadwal kuliah dan bla-bla-blanya di broadcast lewat BB. Manusia jaman sekarang enggak punya banyak pulsa untuk ‘send all’ melalui SMS kaya jaman-jamannya aku SMA dulu. Eh kok jadi kangen masa SMA gini sih?
Back to topic, ternyata yang SMS itu adalah sahabat aku dari jaman SMA sampai sekarang. Si Ade Rebecca Simanjuntak!  Enggak ngerti kenapa nih anak tiba-tiba nge-BBM. Biasanya dia nge-BM cuma pas galau atau emang lagi suntuk abis. Walaupun kemungkinan pertama lebih sering digunakan sebagai alasan olehnya, saya putuskan kali ini alasannya adalah kemungkinan kedua ‘suntuk abis’. Beginilah petikan singkat random conversation kami.




Aku jadi lupa selupa-lupanya sama slide yang memusingkan tadi. Sekarang malah ngakak-ngakak di kamar sampai kena tegur sama Bang Ipan. Ini mah bukan random conversation lagi, tapi lebih menjurus ke crazy conversation.
Ah, Ade. We fight, laugh, love, cry, stream, yell, talk about future, wanting to have a family. That’s why I love you because no matter what we say or to do one another. You are the best in the world and I am blessed to be your best friend!
Aku dan Ade bisa sahabatan kaya gini bukanlah suatu proses yang mudah. Kami dipertemukan Tuhan pada sebuah kondisi yang  awalnya enggak enak. Aku juga engga tau kenapa bisa nyambung dan jadinya deket banget sama wanita penyuka warna pink ini. Padahal dari segi sifat dan kesukaan, kami jauh beda. Dia suka pink, sedangkan aku alergi dengan warna itu. Aku suka sate padeh, dia ogah. Tapi kami sama-sama suka es krim dan coklat! Yah kami wanita, dan hampir seluruh wanita di muka bumi ini menyukai dua makanan manis itu. Tuhan baik, Dia menyatukan dua manusia yang berbeda sifat dalam satu obrolan panjang tak terputus. Tuhan keren ya :’)
Sebenarnya aku sudah begitu lama mengenal Ade. Ketika baru saja pindah ke Pekanbaru, aku melihatnya di gereja. Kami tidak begitu dekat saat itu, karna dari mimik wajahnya Ade terlihat seperti anak perempuan yang un-kind. Galak, itu penilaian aku. Aku juga menganggap dia sombong, karna tidak terlalu banyak berbicara dan bergaul saat sekolah minggu. Sedangkan aku? Walaupun masih baru, aku termasuk anak perempuan yang mudah beradaptasi. Mudah berbaur karna suka teriak-teriak saat pembagian horong di gereja. Singkat cerita, kami dipertemukan lagi dalam sebuah parguru malua. Parguru malua atau dalam bahasa indonesianya ‘naik sidi’ adalah sebuah ritual yang harus dilakukan bagi orang Kristiani ketika dia sudah siap menerimanya. Kalau aku sih lebih suka menyebutnya sebagai baptisan dewasa. Cielah. Dari situ aku dan Ade mulai akrab.  Kami sering ketawa berdua saat inang pendeta sedang menjelaskan topik alkitab. Kami juga sering berbagi bahan catatan parguru malua. Kebetulan aku dan Ade berada pada instansi pendidikan yang sama.Kondisi seperti ini membuat kami  semakin akrab dan dekat. Yang paling ku ingat adalah, kami pernah malam-malam kelilingi kota Pekanbaru buat nyari konsumsi natal. Disaat Vanhollano dan Roti Hoya mau tutup, kami mencegahnya. Walaupun pada akhirnya, pemilihan menu natal kami sama sekali tidak dihiraukan oleh si guru agama. Dari kejadian itu, aku mulai menyimpulkan bahwa Ade bukan anak yang manja. Terlahir sebagai anak bungsu di keluarganya tidak menjadikannya wanita manja pada umumnya. VOILA! Cocok dengan ku, aku paling benci sama orang manja dan yang suka ngeluh tiap waktu. Mungkin memang bawaan ku yang anak sulung dirumah kali ya? 
Ade tahu hampir semuanya tentangku, begitu juga sebaliknya. Mulai dari pacar pertama sampai pacar terakhir ku dia tahu. Bagaimana aku pernah nangis saat diputusin tepat saat ulangtahun ku yang ke - tujuh belas tahun. Bagaimana aku pernah mencak-mencak karna tak dianggap sebagai ketua panitia natal. Bagaimana aku pernah berjanji saat mengendarai motor, sampai pada akhirnya janji itu kutelan bulat-bulat. Dia tahu semuanya.  Ade menyaksikan betapa sulitnya aku bangkit dulu. Saat hidup ku benar-benar hitam putih dan yang ada hanya airmata membasahi bantal, Ade selalu ada. Istilahnya, dia itu diary ku yang hidup. Dia tidak pernah mengeluh mendengar keluh kesah ku tentang lelaki yang itu-itu saja. Dia juga seorang pemberi nasehat yang baik saat aku didekati senior di kampus. Dia pemilik bahu terbaik untuk bersandar. Treasure! Begitu beruntungnya aku memilikinya, aku mencintainya.  

Tidak pernah terbayangkan, bagaimana jadinya aku jika dia tidak disini.  Dan sekarang, kami berdua hidup. Kami tertawa. Kami bahagia. 

Friendship is the best medicine, right?

You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe