Keputusan

4:17 pm

Sebelumnya aku berdebat dengan hati sendiri, harus memposting tulisan ini atau tidak. Jujur rasanya sedikit memalukan jika aku masih saja menuliskan tentangmu, bahkan aku sendiri tidak bisa memaafkan jari-jari ini bergerak spontanitas diatas keyboard hanya untuk menceritakan tentangmu lagi. Kalimat ini sudah cukup lama di draft, bahkan sudah bersarang laba-laba karna disimpan terlalu lama. Aku menulisnya beberapa tahun yang lalu, iya tepatnya setelah menemukan mu membuang muka ketika melihat ku. Bahkan setelah kucoba untuk menyingkirkan kelabu di wajah mu, senyum itu masih juga kau sembunyikan dengan rapi dariku. Kau terlihat seperti seseorang... atau mungkin kita terlihat seperti dua orang yang tak saling mengenal dan tidak pernah menjalin sebait cerita indah dibelakang. Itu topengmu sajakah atau memang itulah jati dirimu sebenarnya? Itu pertanyaanku,

Akhirnya setelah sekian lama aku mulai mengerti, bahwa ada beberapa hal yang memang tidak bisa dipaksakan. Hingga kemarin aku memang terlalu memaksakan bahagiaku yang bukan menjadi bahagia mu. Terlalu menuntut untuk hal-hal yang sebenarnya aku sudah tau ujungnya seperti apa. Yakinlah suatu hari nanti akan tiba masanya kita saling tersenyum satu sama lain tanpa perasaan apa-apa. Akan tiba waktu dimana aku tersenyum kepada mu dan mengucapkan terimakasih untuk pelajaran berharga ini. Sebab tanpa melepas tangan mu mungkin aku tidak akan bertemu seseorang yang baru dan lebih baik untuk diriku nanti.

Dan kamu, terimakasih. Aku berjanji akan berhenti disini. Berhenti untuk mengutip remah-remah langkah mu, berhenti untuk mendoakan mu, berhenti untuk mengutuki bahagia mu. Segala yang lalu anggap saja sebuah dongeng pengantar tidur, agar ku terbangun dengan senyum dipagi hari. 

You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe