Kalah

7:47 pm


"Percayalah, Yu. Setiap orang mempunyai giliran dan waktunya sendiri untuk bahagia." 

Dian, gadis itu berkata tanpa menatap muka lawan bicaranya. Sedari tadi dia sibuk memberi arahan pada dua orang laki-laki berpenampilan maskulin yang sedang berada dibelakang dan didepannya. Yang berbaju hijau stabilo sedang menyemprotkan hair spray ke rambutnya dan satunya lagi fokus melukis wajahnya. "Non, jangan ketebelen ya. Natural aja, you know me lah baby." Ujar gadis itu lagi. Ryan si make-up artist hari itu, atau yang biasa dipanggil Non Ryan mengacungkan jari jempolnya memberi tanda 'oke'. 

"Eh, tapi Yu. Selama delapan tahun kita sahabatan, kau ga pernah nunjukin itu cewek didepan wajah aku deh." Dian menatap lawan bicaranya melalui cermin meja rias. 

"Hem.... yah gimana mau ngenalin kalau aku sama dianya ga punya status apa-apa." Wahyu menghela napas panjang. Laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya, membenarkan jas biru dongkernya lalu berjalan kearah Dian. "Lagian.... seperti katamu, setiap orang punya giliran dan waktu sendiri untuk bahagia. Aku percaya."

"Alah alah, perkataan mu tidak pernah bisa dipercaya Wahyu." Dian tertawa. "Kau itu ganteng, Yu. Punya pekerjaan yang bagus, keluargamu juga bukan keluarga sembarangan, hatimu baik, penyayang dan pengertian pula lagi. Dan yang paling penting, kau tipe lelaki yang royal kalau soal duit. Mana ada perempuan jaman sekarang yang bisa menolak pesona seorang Wahyu Handriatmadjaja? Hanya perempuan bodoh yang tidak dapat melihat harta karun sepertimu." 

"Diana, kau selalu memujiku seperti itu. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, Dian." Wahyu tertawa, siluet tubuh laki-laki itu ketika tertawa dan tersenyum seperti gravitasi. Terbukti dari curi-curi pandang hair styler dan make-up artist Dian. Bahkan seorang laki-laki saja bisa jatuh cinta dengan Wahyu, apalagi perempuan?

"Itu memang kenyataan yang tidak pernah mau kau akui, Yu. Iya gak, Non?" Dian yang sedari tadi menyadari Non Ryan mencuri pandang pada Wahyu, meminta pendapat padanya. "Entahlah Non, aku punya sahabat keren dan ganteng seperti ini tapi masih single sampai sekarang. Susah move on nye Non, heran."
Ryan hanya tersenyum membenarkan perkataan Dian, sedangkan Wahyu mulai tidak nyaman dengan tatapan dua orang laki-laki penyuka sesama jenis tersebut. Dia memberi kode kepada Dian untuk tidak memperpanjang urusan itu lagi, lebih tepatnya Wahyu tidak ingin dianggap menjadi salah satu anggota yang mestinya bergabung dengan perkumpulan penyuka laki-laki ganteng. 
Seseorang mengetuk pintu,  tanpa menunggu jawaban diperbolehkan masuk atau tidak si pengetuk pintu sudah memunculkan batang hidungnya. Seorang laki-laki dengan tuxedo bronze tanpa dasi melemparkan senyum pada Diana. 

"Ngapain kesini sih? Pamali tau liat-liat aku dandan." Diana menggerutu, mulutnya dimajukan kedepan beberapa senti. 

"Dasi aku ketinggalan, cerewet. Kamu masih lama ya? Dibelahan dunia manapun perempuan sama aja ya, lama dandan." Laki-laki itu berjalan cepat kearah lemari putih disudut ruangan, membukanya lalu menarik sebuah dasi polos berwarna silver. 

"Hem... perempuan yang mana lagi Jo? Yang mana?" tanya Dian curiga, perempuan itu menaikan sebelah alisnya dan menatap lawan bicaranya melalui cermin meja rias. 

Si lawan bicara tertawa, "You are the only one, Diana." Ujarnya sambil mencium pipi Dian secepat kilat. "Bro, kita kedepan aja deh. Bakalan lama kalau nunggu ratu elisabeth ini dandan. Entar, aku kenalin sama teman aku deh, biar cepat nyusulin aku dan Dian." Jo menyenggol pundak Wahyu pelan. 

Belum sempat Wahyu menjawab, Dian sudah memotongnya "Jonathan, jangan ganggu aku dan Wahyu. Banyak hal yang harus kami bicarakan, sebab setelah kita menikah bakal sulit ngobrol banyak sama pangeran inggris yang satu ini."

Jo mengangkat pundaknya, menandakan dia menyerah dan enggan melakukan perdebatan dengan Dian "Okay, baiklah ratu. Kalau begitu hamba mohon diri." Ujar laki-laki itu sambil membungkuk selayaknya seorang pelayan minta izin pada ratunya. Orang-orang yang berada diruangan itu tertawa kecil melihat sikap konyol Jonathan, beberapa orang bahkan sudah mulai berpendapat betapa serasinya Jonathan dan Diana.

"Kau ingat gak, Yu? Enam tahun yang lalu setelah aku dicampakkan begitu saja oleh Oscar. Kau tau betapa hancurnya aku kan?" Dian melanjutkan pembicaraannya lagi dengan Wahyu setelah memastikan Jonathan benar-benar pergi. 

"Hem, ya, saat-saat dimana aku tidak bisa lupa." ujar Wahyu pelan.

"Dan lihat sekarang, kau tahu kan betapa aku sangat bahagia hari ini? Memiliki seseorang seperti Jonathan tidak pernah sedikitpun masuk dalam rencanaku."

"Terlihat jelas, Dian." suara Wahyu hampir tidak kedengaran.

"Percayalah, Yu. Setiap orang mempunyai giliran dan waktunya sendiri untuk bahagia." Senyum Dian merekah, perempuan itu memang benar terlihat sangat bahagia sekarang. Sampai-sampai dia tidak dapat melihat dengan jelas gulungan air tertahan dipelupuk mata Wahyu. 

"Kita tak pernah kalah karena mencintai seseorang. Kita selalu kalah karena tidak berterus terang." - Chicken Soup For The Teenage Soul

You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe