Banjir, Demam Berdarah dan Diare

10:28 pm

Oktober akan selesai dalam beberapa hari lagi. Dikenal sebagai bulannya musim gugur namun kenyataannya di Indonesia Oktober itu musim hujan. Banjir, demam berdarah, diare menjadi trending topic di pemberitaan dan sosial media.


Beberapa hari yang lalu aku melihat sebuah pemberitaan di TV tentang Demam Berdarah yang sudah merengut 15 jiwa di Kabupaten Asahan Sumatera Utara, Bahkan sudah ditetapkan sebagai wabah dan mungkin saja dalam waktu dekat ditetapkan sebagai Kasus Luar Biasa (KLB). Sungguh miris rasanya jika penyakit seperti DBD dan diare menjadi penyebab kematian seseorang. Padahal penanganan Demam Berdarah dan Diare sebenarnya tidak terlalu sulit, hanya seputar pemberian cairan yang tepat saja. Namun kedua penyakit ini sering disepelekan. Keterlambatan penanganan sering kali memperburuk sebuah perjalanan penyakit. Tau-tau sudah masuk ketahap kritis saja, perdarahan dari hidung dan gusi bahkan bahkan tak jarang pasien sudah menyandang status koma.
Budaya masyarakat kita pada umumnya adalah menunggu-nunggu sampai parah dulu baru dibawa ke Rumah Sakit. Sering kali penderita DBD dan Diare datang ke RS dengan keadaan lemah, dehidrasi bahkan sudah terjadi kehilangan kesadaran. Disaat seperti ini tidak jarang keluarga pasien menuntut sebuah tindakan cepat dari Tenaga Kesehatan, menuntut anak atau keluarganya seketika sembuh atau sadar kembali. Padahal tidak sesimpel itu. Butuh proses untuk mengembalikan kondisi seseorang yang sudah buruk. 

Sebenarnya masyarakat harus diberi pengertian tentang pentingnya penanganan awal sebuah penyakit. Semakin cepat ditangani tenaga kesehatan, maka presentasi kemungkinan sembuhannya akan lebih tinggi. Disamping itu, masyarakat juga harus tau bagaimana cara mencegah timbulnya penyakit tersebut. Demam Berdarah adalah melalui 4M yaitu, Menguras, Menimbun, Menutup dan Memantau. Sangat mudah dan tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar.


Diare atau mencret di musim hujan seperti ini juga sering kali muncul dipermukaan. Pemicu utamanya adalah ketersediaan air bersih yang minim. Namun karna air merupakan salah satu sumber terbesar dalam kehidupan, mau tidak mau air yang tercemar pun tetap digunakan untuk memasak dan minum. Kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir juga bisa meningkatkan resiko timbulnya diare. Selain itu dibeberapa daerah juga masih sering melakukan tradisi BABS atau Buang Air Besar Sembarangan. Suka-sukanya saja buang air besar tanpa memikirkan kalau tinjanya mencemarkan tanah dan lingkungan. Pemerintah sudah menetapkan 10 indikator PHBS atau Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Jika saja masyarakat tahu dan melaksanakan 10 indikator PHBS dengan baik, sudah pasti presentase timbulnya penyakit akan menurun dengan sendirinya. 


Ya gitu deh. Semoga setelah membaca ini pengetahuan kamu bertambah. Sampaikan pada orang-orang disekitar mu bahwa penanganan awal dan pencegahan penyakit sangat penting untuk menurunkan angka kematian dan angka kesakitan ya.

Selamat menjadi sehat!


You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe