Kepada Bapak Zumi Zola di Tempat

9:04 pm


Selamat malam Pak Gubernur yang cakep. Perkenalkan, saya adalah seorang mahasiswa koas yang sudah bertugas di rumah sakit selama kurang lebih 2 tahun. Jika tidak ada halangan, pada tahun 2017 ini saya akan menamatkan program profesi dokter dan segera bergabung dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Bapak tidak perlu mengenalkan diri pada saya, sebab gampang sekali mencari nama bapak di mesin pencarian internet.
Jujur, saya tidak begitu mengenal bapak. Dahulu yang saya tahu bapak adalah mantan calon suami Ayu Dewi presenter kondang acara musik disebuah stasiun TV swasta. Sampai akhirnya berita tentang sidaknya bapak gubernur pada hari Jumat 20 Januari 2017 beredar di beranda facebook saya. 
Boleh kah saya mengatakan sungguh kecewa ketika melihat video jam 2 pagi itu? 
Berjuta tenaga kesehatan di luar sana pun sedih melihat tindakan bapak yang begitu kasar. Mereka-mereka yang bapak maki pada hari Jumat kemaren adalah seorang ayah yang mungkin sedang lembur untuk mencari biaya anaknya sakit, seorang ibu yang meninggalkan anak dan suaminya dirumah hanya untuk melayani orang sakit. ataupun seorang anak yang berjuang mencari biaya sekolah tanpa memberatkan orangtuanya. Mereka itu punya kehidupan yang jauh lebih berharga daripada melayani masyarakat pada tengah malam, namun mereka semua lebih memilih untuk datang ke rumah sakit dengan mata mengantuk dan bahu yang berat. Gaji mereka tidak seberapa loh pak, dibandingkan dengan gaji seorang bapak gubernur. Bahkan banyak beberapa diantara mereka yang masih mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai hidup yang tidak murah ini.  
Bapak Zumi Zola yang tegas, sikap bapak kemaren sangat disayangkan sekali. Seharusnya seorang pemimpin seperti bapak tidak harus berlelah-lelah mendatangi pegawai-pegawai yang jabatannya masih dibawah. Tidakkah lebih bijaksana jika bapak langsung menemui kepala pengurus rumah sakit yang notabene pasti jauh lebih mengerti mengapa banyak komentar miring singgah di telinga Bapak Gubernur. Bapak tidak perlu sampai membentak ataupun menendang benda-benda seperti di video sidak bapak itu. Mereka pasti mengerti jika diberi teguran dengan belas kasih dan lemah lembut. Mereka bukan orang sembarangan yang tiba-tiba bisa bekerja di rumah sakit, mereka memiliki pendidikan yang khusus Pak Zumi Zola. Sekolahnya pun tidak sesingkat yang dipikirkan orang-orang, butuh waktu 3 - 5 tahun hanya untuk menjadi seorang tenaga kesehatan.  
Beberapa nitizen yang tidak mengerti membenarkan tindakan bapak yang seperti ini. Karna mereka tidak mengerti bagaimana sulit dan melelahkannya menjadi seorang tenaga kesehatan. Apalagi para perawat, bidan, dan dokter yang berada dibagian terdepan Instalasi Gawat Darurat. Sering sekali mereka disalahkan jika seorang pasien meninggal dan tak dapat ditolong lagi. Padahal bukankah nyawa dan umur itu semua ada ditangan sang pencipta? Tenaga kesehatan tetaplah seorang manusia yang dibekali ilmu, mereka bukan malaikat yang tahu kapan umur seseorang berakhir.  
Selama dua tahun saya menjalani kepaniteraan klinik di rumah sakit, saya sering kali merasa tidak dihargai oleh beberapa manusia. Saya menjalani koas di 3 rumah sakit berbeda dalam dua tahun belakangan. Setiap rumah sakit mempunyai sistem dan peraturan yang berbeda-beda. Apalagi sistem pembiayaan asuransi kesehatan (BPJS) sering kali mengalami perubahan peraturan. Tak jarang saya menjelaskan peraturan BPJS yang berbeda dengan orang yang sama setiap minggunya. Karna sistem berubah tanpa pemberitahuan yang jelas, sering kali tenaga kesehatan disalahkan dan dianggap tidak mampu memberi pelayanan yang terbaik pada pasien. Padahal sistem BPJS ataupun pembayaran jasa bukanlah urusan tenaga kesehatan. Semua itu diurus oleh sistemnya sendiri. Tenaga kesehatan hanya tau bagaimana  caranya mengurangi angka kematian dan kecacatan pasien yang datang untuk berobat, 
Pak Zumi Zola, belakangan diberitakan ternyata yang tidur pada hari Jumat jam 2 pagi itu adalah mahasiswa koas yang sedang praktek. Sedangkan dokter jaga lagi visite ke ruangan dan perawat yang berjaga sedang membenarkan infus. Dokter, perawat ataupun mahasiswa koas hanya tidur ketika tidak ada pasien gawat. Karna di setiap ruangan pun pasti memiliki perawat yang berjaga. Sistem jaga kami tidak sesimple yang bapak pikirkan, sering kali kami berganti shift agar bisa merebahkan kepala untuk beberapa menit saja. Perlu Bapak perhatikan kembali, kenapa di RSUD Raden Mattaher hanya ada 1 dokter yang berjaga? Padahal sebuah RSUD yang luas seperti itu mungkin butuh lebih dari 1 dokter jaga. 
Bapak Gubernur, jangan menambah lagi polemik negatif tentang tenaga kesehatan di Indonesia tercinta ini. Cukuplah kami di uji oleh internship dan isu program Dokter Layanan Primer serta isu-isu jahat lainnya yang mungkin saya tidak bisa jelaskan disini. Tenaga kesehatan Indonesia butuh penghargaan atas jasa maupun dedikasi mereka. Karna sebagian besar diantaranya seringkali meninggalkan keluarga dan hal berharga lainnya untuk melayani masyarakat. 

Tertanda, Seorang Mahasiswa Koas.

You Might Also Like

0 comments

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe