Sepenggal Cerita Tentang Opung

6:50 pm

Kayaknya aku mikir seribu kali atau bahkan seyuta kali untuk memutuskan ngeposting tulisan ini. Bukan karna ga ada ide atau topik, tapi emang rada malas lama-lama duduk didepan laptop. Sejujurnya si anisa ini memang ga sekreatif dulu lagi, ga se antusias dulu lagi untuk ngeposting segala macam curhatan di blog ini. Padahal udah berkali-kali diingetin sama seorang temen dekatku buat aktif menulis lagi, tapi ya gitu deh emang rada males sih. Emang ga niat, atau emang ga ada topik yang ingin ku ceritakan haha.

Back to the topic, jadi di tulisan kali ini aku mau menulis sesuatu tentang almarhum opung yang berpulang kerumah Bapa bulan Juli 2016 kemaren. I'm just remember about her almost everyday. Bayangin aja, tiap keluar kamar pasti langsung liat wajah opung dengan senyum manisnya tergantung didepan pintu kamar. Selalu berandai-andai, "kalau opung masih disini, gimana ya?" Aku selalu berpikir kenapa orang-orang baik selalu saja pergi duluan mendahului orang-orang kurang baik.
"Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya." Mazmur 116 : 15
Misteri kehidupan emang ga ada yang tahu sih ya kan?

Bahkan suara opung masih bisa ku ingat, dengan nada agak melengking dan kalimat khasnya yang mungkin ga akan pernah bisa buat ku lupakan "oh... nica parbada!" hahaha percayalah, opungku benaran ngomong seperti itu tiap kali ku becandain. Dia ga pernah ga ketawa, dan ga pernah ga nanggapin permintaanku yang aneh-aneh. Mulai dari, "Pung, besok masak tahu tauco napa pung?", "Pung, opung kok cantik kali? Kalah anak gadis bah!", "Pung, kacamata opung cantik. Buat aku ya!", "Opung, aku kok jomblo ya?", "Oo opung, kapan kita ke monja?", "Pung, masakin lapet pung. Apa namanya itu yang lapet ga dimasak?" (it's mean 'itak gurgur' masakan khas batak) and many more pertanyaan-pertanyaan aneh ku.

Opung selalu berpesan buat selalu jadi orang yang baik, agar menemukan dan ditemukan oleh orang yang baik juga. "Opung, doakan nica supaya dapat jodoh yang baik ya." dan dia jawab "Iya pung, opung selalu berdoa yang terbaik buat nica."

Bahkan kebiasan-kebiasaannya juga masih ku ingat. Mulai dari nonton film india Uttaran haha dia masih sempat nanya gimana kelanjutan kisah si Ica dan Veer beberapa hari sebelum meninggal. Saat itu opung dirawat di RS, dan ga ada TV. Seriusan aku ngakak, ga tau dan ga bakal nyangka beberapa hari setelahnya aku malah nangis kenceng karna opung udah ga ada lagi. Kebiasaannya menjahit, cabutin rumput halaman seminggu sekali, buat jus jambu merah tiap hari. 

Terakhir kali becandaan kami adalah pada tanggal 27 Juni 2016 di RS Elisabeth Medan.

"Opung, udah musim durian loh. Opung ga mau makan durian dulu sebelum ke Penang?"

"Oh, nica parbada. Shit babam!" ini ngomongnya sambil ketawa

"Seriusan pung, makan durian lah kita. Udah lama aku ga makan durian."

"Iya, nanti kita makan durian ya, pulang dari sana langsung kita pesan durian."

"Seriusan ya pung, janji ya pung?"

"Iya, nica parbada."

Besok paginya, opung sudah melakukan keberangkaran ke Penang untuk terapi penyakitnya. Sampai disana diputuskan agar opung melakukan tindakan operasi laparotomi pada hari Rabu. Diketahui bahwa ternyata ada batu empedu di saluran empedunya opung sehingga menyumbat saluran itu. Sudah agak lama dan telat di diagnosis sehingga terjadi infeksi dan menyebabkan tumpukan-tumpukan sel darah putih yang mati (nanah) menekan paru sebelah kanan. Pada hari pertama post operasi, keadaan vital opung sudah mulai membaik. Segalanya dilaporkan dengan baik kepada kami yang ada di Indonesia melalui grup whatssap. Namun masuk hari kedua dan ketiga, mulai dilaporkan bahwa keadaan opung memburuk. Semua kondisi dan laporan vital sign serta keadaan umumnya menjurus ke arah Sepsis (reaksi tubuh dalam memerangi bakteri didalam tubuh) dan tak beberapa lama dikatakan bahwa opung sudah masuk ke kondisi MOSF (Multiple Organ System Failure). Sudah tidak ada harapan lagi, kecuali keajaiban dari Tuhan. Dan benar saja, ga menunggu waktu lama opung dikabarkan udah ga ada lagi, udah dijemput sama Tuhan.

Aku ga percaya. Seketika waktu berhenti tiba-tiba, apa benar? Apa mungkin? Mendengar suara mama  di telepon yang nangis-nangis dari Penang sana akhirnya mampu membuatku yakin bahwa opung kami yang baik udah ga ada lagi. Aku yang semula keesokan paginya akan berangkat ke Pekanbaru untuk liburan mendadak di cancel, tiket hangus blaassss. Semua perjalanan diubah rutenya menuju Medan, menunggu kedatangan jenazah opung dari Penang.

Foto Bersama Setelah Kebaktian Natal, 25 Desember 2015

Kiri - Kanan : Aku - Opung - Mama 

Tahun 2016 merupakan tahun yang cukup berat buat kami. Karna kehilangan opung paling cantik dan baik.Udah ga ada lagi opung yang selalu nanya,
"Nica, kapan siap koasnya pung? Masih sempat opung liatkan?"
"Nica, ayok kawani opung ke monja cari gorden."
"Nica, kapan mamak mu  datang ke medan? Bilangkan bawain madu ya?"
"Nica, ada uang pulsa mu boru?"

Tuhan memang lebih sayang sama opung, Dia lebih butuh opung di surga sana. Orang-orang baik kayak opung memang dibutuhkan agar surga meriah dan penuh dengan kebahagiaan.
"Berkat yang kelak diterima di surga, lebih dari cukup untuk menggantikan segala kehilangan di dunia." - Anonim 
Nice to meet you 2016. Thankyou for sent me a beautiful angel like Opung Boru Aritonang.


You Might Also Like

1 comments

  1. Di Surgo na sonang do Opung Ica, di lambungni Jesus paimahon hita.

    ReplyDelete

"...ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk"
--Efesus 3:5b

NEWSLETTER

Subscribe